First Step to Forever
Aku melangkahkan kakiku. Berat. Diiringi dengan helaan napas yang tak mampu ku bendung.
Haah. Malas rasanya bergerak. Tubuhku seakan terpaku ke bumi.
Langkah pertama memang ujian yang paling berat dalam hidupku. Dalam setiap hal yang kulakoni, tak pernah ada awal yang ringan. Ragaku seakan menolak akan setiap pemikiran yang dilahirkan otakku. Kemana jiwaku? Entahlah. Jejaknya telah lama hilang. Minggat.
Perlahan aku mengedarkan mataku ke sekeliling.
Hmm. Itu-itu saja. Membosankan.
Saat tidak ada energi positif di dalam diriku, dunia terasa hampa dan hambar. Tidak ada warna menarik, ataupun motivasi untuk mendorong badanku maju bergerak. Monochrome. Ya, aku seakan hidup di dunia hitam putih yang memusingkan.
Ternyata manusia memang menyukai keindahan, warna, melodi, lukisan, dan energi.
Selanjutnya aku menarik nafas dalam.
Ugh. Rasanya aku ingin batuk-batuk parah saat menghirup aroma dan udara perkotaan yang pekat.
Hmm, satu alasan lagi yang menahanku ke bumi. Entahlah, rasanya menyebalkan harus mengecup aroma yang tidak menyenangkan seperti debu, asap, keringat, parfum tante-tante, maupun bau minyak gosok andalan kaum manula.
Lagi-lagi, ternyata manusia sukanya aroma yang sedap. Aromatherapy, kopi, cokelat, masakan ibu yang lezat, maupun wanginya padang bunga yang sedang mekar merekah.
Saat aku mencoba membuka telingaku.
Duh! Pekak oleh ributnya aktivitas manusia! Suara kenek angkutan umum yang nyaring memanggil penumpang, suara klakson kendaraan yang emosi keracunan monoksida, suara gegap gempita hidup para manusia. Ah, aku tidak mau bergerak dari cangkangku yang tenang ini!
Kulitku pun langsung memerah terbakar matahari yang semakin ganas seiring dengan menipisnya lapisan atmosfer, otot-ototku kaku, engsel-engsel tulangku berdecit layaknya pintu yang tak pernah diminyaki.
Seperti itulah aku. Seperti sebuah rumah tua yang kosong tanpa apapun. Tanpa warna. Tanpa rasa. Tak bisa bergerak. Bumi seakan menahhanku di tempat.
Seperti itulah perasaanku. Setiap kali aku mencoba melakukan sesuatu yang baru. Sesulit itulah aku melangkahkan kaki pertamaku.
Tapi, saat aku (kau) bergerak, saat aku (kau) membiarkan energi positif masuk ke dalam diriku (mu)...
Dia pulang. Jiwamu yang minggat itu!
Matamu mulai menangkap segala keindahan yang tersaji. Semua terasa berwarna dan menakjubkan. Telingamu mulai mendengar keindahan di antara deru aktivitas, gelak tawa dan canda, emosi dan rasa. Semua aroma menjadi bermakna, asap dan debu hasil pembuangan kendaraan yang dipakai para ayah-ibu untuk menghidupi keluarganya, anak sekolah yang menuntut ilmu untuk perbaikan bangsa, bau keringat para pekerja keras yang menambah devisa dan menggerakkan perekonomian negara. Tak lupa minyak gosok sebagai hadiah para manula yang sudah menghasilkan generasi penerus bangsa. Terik matahari bagaikan anugerah, yang menjaga dan memberi kehidupan di bumi.
Seperti inilah aku. Seperti rumah yang dihuni oleh keluarga bahagia. Penuh rasa, penuh warna.
Seperti inilah rasanya, saat akhirnya aku (kau) berhasil melangkahkan kakiku (mu) untuk yang pertama kalinya.
Satu langkah yang akan membimbingmu ke masa depan. Satu langkah untuk selamanya.
post before on https://prinzwit.wordpress.com/2014/01/07/first-step-to-forever/
Haah. Malas rasanya bergerak. Tubuhku seakan terpaku ke bumi.
Langkah pertama memang ujian yang paling berat dalam hidupku. Dalam setiap hal yang kulakoni, tak pernah ada awal yang ringan. Ragaku seakan menolak akan setiap pemikiran yang dilahirkan otakku. Kemana jiwaku? Entahlah. Jejaknya telah lama hilang. Minggat.
Perlahan aku mengedarkan mataku ke sekeliling.
Hmm. Itu-itu saja. Membosankan.
Saat tidak ada energi positif di dalam diriku, dunia terasa hampa dan hambar. Tidak ada warna menarik, ataupun motivasi untuk mendorong badanku maju bergerak. Monochrome. Ya, aku seakan hidup di dunia hitam putih yang memusingkan.
Ternyata manusia memang menyukai keindahan, warna, melodi, lukisan, dan energi.
Selanjutnya aku menarik nafas dalam.
Ugh. Rasanya aku ingin batuk-batuk parah saat menghirup aroma dan udara perkotaan yang pekat.
Hmm, satu alasan lagi yang menahanku ke bumi. Entahlah, rasanya menyebalkan harus mengecup aroma yang tidak menyenangkan seperti debu, asap, keringat, parfum tante-tante, maupun bau minyak gosok andalan kaum manula.
Lagi-lagi, ternyata manusia sukanya aroma yang sedap. Aromatherapy, kopi, cokelat, masakan ibu yang lezat, maupun wanginya padang bunga yang sedang mekar merekah.
Saat aku mencoba membuka telingaku.
Duh! Pekak oleh ributnya aktivitas manusia! Suara kenek angkutan umum yang nyaring memanggil penumpang, suara klakson kendaraan yang emosi keracunan monoksida, suara gegap gempita hidup para manusia. Ah, aku tidak mau bergerak dari cangkangku yang tenang ini!
Kulitku pun langsung memerah terbakar matahari yang semakin ganas seiring dengan menipisnya lapisan atmosfer, otot-ototku kaku, engsel-engsel tulangku berdecit layaknya pintu yang tak pernah diminyaki.
Seperti itulah aku. Seperti sebuah rumah tua yang kosong tanpa apapun. Tanpa warna. Tanpa rasa. Tak bisa bergerak. Bumi seakan menahhanku di tempat.
Seperti itulah perasaanku. Setiap kali aku mencoba melakukan sesuatu yang baru. Sesulit itulah aku melangkahkan kaki pertamaku.
Tapi, saat aku (kau) bergerak, saat aku (kau) membiarkan energi positif masuk ke dalam diriku (mu)...
Dia pulang. Jiwamu yang minggat itu!
Matamu mulai menangkap segala keindahan yang tersaji. Semua terasa berwarna dan menakjubkan. Telingamu mulai mendengar keindahan di antara deru aktivitas, gelak tawa dan canda, emosi dan rasa. Semua aroma menjadi bermakna, asap dan debu hasil pembuangan kendaraan yang dipakai para ayah-ibu untuk menghidupi keluarganya, anak sekolah yang menuntut ilmu untuk perbaikan bangsa, bau keringat para pekerja keras yang menambah devisa dan menggerakkan perekonomian negara. Tak lupa minyak gosok sebagai hadiah para manula yang sudah menghasilkan generasi penerus bangsa. Terik matahari bagaikan anugerah, yang menjaga dan memberi kehidupan di bumi.
Seperti inilah aku. Seperti rumah yang dihuni oleh keluarga bahagia. Penuh rasa, penuh warna.
Seperti inilah rasanya, saat akhirnya aku (kau) berhasil melangkahkan kakiku (mu) untuk yang pertama kalinya.
Satu langkah yang akan membimbingmu ke masa depan. Satu langkah untuk selamanya.
post before on https://prinzwit.wordpress.com/2014/01/07/first-step-to-forever/
Comments
Post a Comment